
Yogya – Menyusul dibukanya China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) atau perdagangan bebas China Asia, produk obat-obatan asal China mulai membanjiri toko dan apotik di negara Asean. Untuk membendung produk obat asal China diperlukan sebuah kesepakatan bersama antara negara-negara Asean dalam merumuskan standarisasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB).
Forum The Asean Consultative Commitee for Standards And Quality – Pharmaceutical Product Working Group (ACCSQ-PPWG) ke-17 yang berlangsung di Yogyakarta, mulai Kamis (22/7), lembaga pengawasan obat dan makanan se-Asean akan membuat standar khusus atau harmonisasi standar. Sepuluh negara Asean yang mengikuti kegiatan tersebut selama ini memiliki standar sendiri sehingga menyulitkan industri obat.
“Forum ACCSQ-PPWG, akan mensinergikan standarisasi cara pembuatan obat yang baik atau harmonisasi standar dan persyaratan obat yang diperdagangkan di kawasan Asean,” kata Ketua Pertemuan ACCSQ-PPWG asal Malaysia, Eisha Rahman, di Yogya, Kamis (22/7).
Eisha Rahman mengatakan, CAFTA bukanlah suatu ancaman bagi negara-negara Asean terutama dari sisi produk obat-oabatan. Sebaliknya, CAFTA dapat meningkatkan perekonomian di negara Asean. Karena itu, dibutuhkan sebuah standar baku mutu obat untuk menangkis atau membendung masuknya obat produk asal China yang masuk ke negara Asean.
“Masyarakat Asean membutuhkan produk obat yang mujarab atau yang menyelamatkan. Karena itu, akan menyamakan standar supaya produk obat yang diproduksi di negara Asean dapat saling diterima termasuk di negara China atau luar Asean,” kata Eisha Rahman.
Sementara itu sekretaris Forum ACCSQ-PPWG, Sherly Vincent Ramesh (Thailand) mengungkapkan pertemuan antar badan pengawas obat se-Asean merupakan bagian untuk menguatkan kerjasama dalam mengawasi peredaran obat-obatan dipasaran. Jika negara Asean menemukan ada obat yang tidak sesuai dengan staandar mutu yang ditetapkan Asean, maka negara yang bersangkutan harus menginformasikan kepada negara lain di Asean.
“Pertemuan ini merupakan bagian pencegahan dini untuk mengontrol obat yang tidak memenuhi standar. Sekaligus untuk menjamin keselamatan konsumen sebelum mengkonsumsi obat impor,” kata Sherly. (Py)


