
Jakarta - Presiden SBY memilih Anny Ratnawati sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) daripada Anggito Abimanyu. Padahal, sebelumnya Anggito sudah hendak dilantik menjadi Wamenkeu. Anggito dinilai sebagai korban pencitraan politik SBY.
Pengamat politik dari Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA, menilai Anggito terlalu dekat dengan Golkar. SBY tidak ingin kelihatan terlalu diatur Golkar dalam Setgab koalisi. Sehingga akhirnya batal memilih Anggito. "Anggito terlalu dekat dengan Gokar. Ini tidak menguntungkan untuk dirinya (SBY)," ujar Denny.
Berikut wawancara dengan Denny JA, Kamis (20/5/2010):
Mengapa SBY memilih Anny daripada Anggito?
Ada background politik bagi SBY. Saat dibentuk Setgab koalisi banyak publik yang menilai SBY terlalu mengalah dengan kekuatan partai di parlemen, terutama Golkar. Kesannya, partai bisa mengendalikan lebih jauh di Kemenkeu. Jika Anggito yang diangkat akan memperkuat kesan itu, karena dianggap terlalu akrab dengan parlemen.
Jadi ini kental dengan politik?
Ya, ini kental dengan politis. Hal ini dilakukan SBY untuk menunjukkan dia masih in control di pemerintahan dan tidak bisa diatur-atur oleh partai anggota koalisi.
Jadi Anggito jadi korban pencitraan SBY?
Ya. Kedekatan Anggito dengan Golkar jadi kelemahan. Padahal dulu mungkin jadi kekuatan. Walau Anggito tidak mengaku dekat dengan Golkar, tapi kesannya dia tetap dekat dengan Golkar.
Dulu pemerintah pernah akan melantik Anggito sebagai Wamenkeu, tapi batal karena masalah kepangkatan. Lalu sekarang memilih Anny. Apa ini bisa dikatakan SBY tidak konsisten?
Bukan. Ini masalah timing. Sekarang dan dulu itu beda. Jika dulu diangkat tidak masalah. Tapi sekarang ada image, SBY bisa diatur koalisi. Akhirnya SBY pun memilih tidak mengangkat Anggito karena khawatir dengan image itu.
Pilihan Anggito yang mundur dari Kemkeu?
Wajar, tapi seharusnya dia tidak perlu mundur karena tahu ada kepentingan yang lebih besar. (*/dtc)


