Bookmark and Share
ilmci
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
frenbook
Mengapa Tokoh Kunci Teroris Selalu Berakhir dengan Kematian?
lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]
Rabu, 10/03/2010 | 17:07 WIB

Mengapa Tokoh Kunci Teroris Selalu Berakhir dengan Kematian?
OLEH: ARIEF TURATNO

TOKOH kunci dari kelompok teroris yang beroperasi di Indonesia, Dokter Azhari ditemukan atau ditangkap dalam keadaan tewas. Tokoh teroris asal Negeri Jiran (Malaysia) itu ditembak mati dalam penggrebekan Densus 88 di kawasan wisata Batu, Malang, Jawa Timur (Jatim). Sebelum Azhari, tokoh kunci teroris di Indonesia, yakni Amrozy, Mukhlas, dan Imam Samodra pun mati di depan regu tembak di kawasan LP Nusakambangan Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Belakangan, tokoh kunci teroris lainnya yang menjadi teman akrab Azhari, yakni Noordin M Top, tewas diberondong senapan mesin di daerah Temanggung, Jawa Tengah (Jateng). Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa tokoh-tokoh kunci tersebut tidak ditangkap hidup-hidup, tetapi malah dibiarkan tewas?

Mungkin untuk menjawab pertanyaan tersebut, polisi dapat menyampaikan berbagai macam alasan, antara lain mereka akan berdalih bahwa mereka cukup berbahaya jika dibiarkan hidup. Atau polisi dapat beralasan, karena saat disergap yang bersangkutan dilengkapi dengan senjata mematikan, sehingga terpaksa diambil jalan paling aman, yakni dengan menembak mati mereka. Dan mungkin alasan lain yang dapat dijadikan alat pembenar? Hanya satu hal yang harus dan perlu kita pertanyakan disini adalah mengapa mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri? Bukankah dalam perundangan manapun pembelaan  diri patut diberikan kepada setiap orang. Ini dimaksudkan agar keadilan hokum dapat ditegakan.

Dan bukan itu saja sebenarnya. Dengan ditangkap hidupnya tokoh-tokoh kunci tadi, mungkin akan banyak yang dapat diambil darinya, misalnya mengapa mereka melakukan perbuatan semacam itu? Latar belakangnya, teman-temannya, dan rencana berikutnya? Mungkin pula dengan adanya keterangan yang terungkap dari para tokoh kunci, kita akan mampu mempersempit ruang gerak para teroris. Namun dengan sikap dan kebijakan kita yang mematikan semua tokoh kunci, kita sepertinya kehilangan jejak. Pertanyaannya adalah apakah karena kebijakan yang keliru semacam ini, sehingga pemberantasan teroris di Indonesia tidak pernah tuntas? Entahlah! Yang jelas kita pun belum pernah tahu alasan sesungguhnya, mengapa semua tokoh kunci harus berakhir dengan kematian.

Dulu, ketika Belanda menjajah Indonesia, mereka tidak pernah berusaha mematikan tokoh kunci. Karena Belanda sangat mengerti bahwa membunuh tokoh kunci bukan menyelesaikan persoalan, justeru malah merugikan karena tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan barter, nilai tawar, bila muncul perlawanan dari para pengikut tokoh kunci tadi. Kita lihat saja, bagaimana kerugian Belanda ketika terjadi pemberontakan yang dipimpin Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah dan sekitarnya. Banyak tentara Belanda yang tewas akibat perlawanan Diponegoro dan pasukannya. Namun, begitu mereka berhasil menangkap Diponegoro, bukan membunuhnya tetapi tetap dibiarkan hidup-hidup untuk dijadikan tameng.

Hal yang sama dilakukan terhadap para tokoh kunci lainnya, seperti Kyai Mojo (guru spiritual Pangeran Diponegoro). Setelah dia berhasil ditangkap bukan ditembak mati, tetapi cukup dibuang ke Sulawesi Utara. Termasuk pimpinan pemberontakan di Sulewesi Selatan (Sulsel). Tokoh kunci mereka tidak dibunuh, hanya diasingkan ke Afrika Selatan (Afsel). Pertanyaanya adalah mengapa kita tidak pernah belajar dari sejarah? Mengapa kita tidak bisa meniru dengan apa yang dilakukan Belanda, bahkan apa yang pernah dicontohkan Pak Harto (almarhum mantan Presiden HM Soeharto)? Ada agenda apa dibalik semua itu? Yang tahu jawabnya adalah pemerintah sendiri! (*)

konser rama widi
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: