Bookmark and Share
ilmci
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
frenbook
Mempersoalkan Pemberantasan Teroris yang Tak Pernah Tuntas
lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]
Rabu, 10/03/2010 | 16:53 WIB

Mempersoalkan Pemberantasan Teroris yang Tak Pernah Tuntas
OLEH: ARIEF TURATNO

KETIKA kita mendengar Densus 88 berhasil menghabisi gembong teroris Noordin M Top, kita berpikir bahwa teroris sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada kemungkinan untuk sementara tiarap dulu. Karena mereka tidak lagi memiliki komandan lapangan. Apalagi setelah beberapa orang yang diduga terkait dengan Noordin pun akhirnya tewas ditembak mati, seperti Syaifuddin Zuhri dan lainnya. Kita pun semakin yakin bahwa Indonesia bersih dari teroris. Bahkan kita semakin yakin kalau kita telah steril dari teroris ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Husein Obama mengatakan akan melakukan kunjungan nostalgia ke Jakarta pada bulan Maret 2010 ini.

Namun, keyakinan dan kepercayaan diri kita kembali terkoyak, setelah polisi membuat pernyataan bahwa mereka telah berhasil memporakporandakan sarang teroris di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disusul dengan penggrebekan teroris di Tangerang, Banten yang menewaskan tiga orang tersangka teroris. Kita pun jadi semakin miris, ternyata teroris masih banyak. Bahkan berkeliaran di sekitar ibukota Negara, Jakarta daerah yang akan dijadikan target utama kunjungan Presiden AS Barack Husein Obama ke Indonesia. Pertanyaan dan persoalannya mengapa pemberantasan teroris tidak pernah tuntas? Disengajakah atau karena alasan lain?

Para pakar teroris selalu mengasumsikan bahwa segala macam bentuk terror itu muncul atau terjadi dari suatu keadaan tidak berdaya. Dan teroris tidak selalu identik dengan Islam. Sebelum bangsa Yahudi (Israel) memperoleh kembali negaranya, mereka pun berjuang dengan melakukan terror. Demikian dengan orang-orang Katholik di Irlandia. Untuk menunjukan eksistensinya, mereka membentuk pasukan “terror” IRA, yang juga melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Britania Raya (Inggris) dengan jalan terror. Di tanah Palestina, karena bansa ini nasibnya belum jelas, mereka memperjuangkan hak-haknya dengan jalan teror.

Pada intinya teror yang dilakukan para teroris itu terjadi karena keadaan memaksa. Keadaan dimana mereka tidak akan berdaya jika harus melakukan perlawanan secara frontal. Dan teroris di Indoensia, sebenarnya bukan melakukan teror kepada rakyat Indonesia---meskipun terjadinya di Indonesia—tetapi mereka lakukan terhadap kekuatan asing yang dianggap tidak adil terhadap rakyat Palestina, Irak, Afghanistan dan sebagainya. Jadi sepanjang akat permasalahan belum pernah dituntaskan, maka teror dan teroris tidak pernah akan habis, termasuk di Indonesia. Yang mungkin bisa dilakukan pemerintah atau pihak keamanan, semacam Densus 88 adalah dengan mengurangi, bukan menghabisi sama sekali teroris.

Ada yang menggambarkan teroris ini seperti penyakit kanker. Yang dapat dilakukan adalah melokalisir, bukan menyembuhkan sama sekali. Mengapa? Karena alasan tadi, sepanjang sumber masalahnya belum ditintaskan atau dihilangkan. Maka penyakit yang namanya teroris itu akan selali tumbuh, tidak terkecuali di Indonesia. Karena itu kita pun sulit untuk mengasumsikan bahwa masih banyaknya teroris di Indonesia merupakan suatu kesengajaan, atau terbentuk karena keadaan semacam yang kita sebutkan di atas. Sekarang persoalannya kita kembalikan kepada pandapat dan asumsi Anda. Karena kita pun semakin repot menelusurinya, sebab setiap tokoh penting yang mestinya dapat membongkar persoalan ini selalu berakhir dengan kematian. (*)

konser rama widi
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: