
Yogyakarta - Aliansi Pemuda dan Santri Penyelamat PKB (APSP PKB), mengeluarkan maklumat mosi tidak percaya kepada ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar dalam aksi yang digelar di Tugu, Yogya, Senin (8/3). Muhaimin dianggap tak dapat membawa partai ke arah yang lebih baik.
''Sebagai partai besar, PKB tidak mampu menunjukkan citra dirinya. Bahkan kehilangan jati diri sebagai partai modern dan profesional," koordinator aksi, Ryan Kusumo dalam orasinya menunjuk sinyalemen tersebut PKB memilih opsi bahwa bailout Century tidak bermasalah .
Menurut APSP kepengurusan PKB di bawah kendali Muhaimin tidak mampu menghadirkan suatu kepemimpinan yang kolektif dan terkesan PKB milik elit. Ketidakharmonisan kepengurusan PKB juga merupakan dampak dari tidak baiknya manajemen yang dibangun oleh ketua umumnya sendiri.
Dengan membakar foto Muhaimin, APSP merasa riasu. Karena semua kebijakan yang lahir dari kepemimpinan PKB saat ini terkesan bernuansa koncoisme dan iminisme.
"Pola manajemen PKB saat ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa PKB milik bersama tetapi hanya milik keluarga dan sahabat karib. PKB akan hancur jika dalam perjalanannya diklaim secara sepihak oleh kerabat dekat Muhaimin saja," tegas Ryan.
Tindakan tegas
Di tempat yang sama dalam waktu yang berbeda, HMI Yogya kembali menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menyerukan kembali agar pemerintah segera mengambil tindakan tegas dalam penyelesaian kasus skandal Bank Century.
Koordinator aksi, Ibrahim Husein mengungkapkan, kebobrokan penegakan hukum di Indonesia saat ini telah mencapai puncaknya. Kasus Bank Century merupakan salah satu contoh arogansi pemerintah yang memainkan sandiwara politik untuk mengaburkan rasa keadilan.
Menurut dia, pasca putusan DPR RI, seharusnya penegak hukum bisa tanggap dan segera melakukan pengusutan serta harus bebas dari tekanan politik berbagai pihak yang berkuasa. "Kami mendesak kepada DPR RI untuk menggunakan hak menyatakan pendapat bahwasannya pengambilan keputusan terkait Baillout Bank Century adalah bersalah," katanya.
Selain mengusung isu mengenai bank Century, aksi juga mengusung misi solidaritas atas kekerasan yang terjadi antara aparat kepolisian dengan kader HMI di Makasar dan Jakarta.
Serentak
Puluhan massa terdiri dari beberapa elemen mahasiswa serentak turun ke jalan, di tempat berbeda, di Yogya, memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI). Mereka menuntut kesetaraan dan keadilan bagi kaum perempuan.
Aksi pertama dimulai dari solidaritas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM dengan aksi bisu di Bundaran UGM. Mereka menyerukan, momentum HPI merupakan waktu yang tepat untuk merefleksi kondisi perempuan Indonesia, di tengah komitmen pemerintah yang masih sangat rendah.
Di perempatan Tugu, Perempuan Mahardika Nasional (PMN) juga menggelar aksi serupa dengan mengusung tuntutan agar perempuan bisa keluar dari rumah dan serentak melawan kapitalisme, sekaligus berjuang untuk kesejahteraan dan kesetaraan.
"Perempuan bukan kanca wingking. Bukan warga negara kelas dua. Ketidaksetaraan, penindasan, dan diskriminasi perempuan berkembang dan terstruktur secara luas," koordinator PMN, Sarinah menyatakan ketidakadilan perempuan adalah ciptaan manusia, sudah seharusnya bisa diubah oleh manusia itu sendiri. "Perempuan harus bergerak dan keluar rumah," tandas Sarinah.
Sementara itu, Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) turun ke jalan menggelar aksi di depan Gedung Agung dan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Mereka mempertanyakan kembali hak kaum perempuan.(wok)



