
FAKULTAS Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan penghargaan kepada mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari. Wanita yang kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu dinilai berhasil melakukan kebijakan kesehatan yang prorakyat miskin.
Pemberian penghargaan alumni berprestasi ini diserahkan langsung oleh Dekan FK UGM Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D dalam acara puncak Dies Natalis FK UGM ke-64, di kampus Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (5/3)
Saat berpidato, Siti mengaku terharu atas penghargaan yang diterimanya. Menurut Siti, kebijakan kesehatannya merupakan bentuk tanggungjawabnya selaku menkes. Kebijakan yang dilakukannya itu merupakan hasil kerja keras bersama koleganya di Departemen Kesehatan.
"Saya mengerjakan tugas ini sebagai sesuatu yang harus saya kerjakan, sebagai menteri kesehatan. Ini kerja bareng tim, saya tidak tahu kenapa saya dianggap sebagai pengambil kebijakan yang pro rakyat," kata Siti.
Siti juga mengunkapkan posisinya saat ini selaku anggota Wantimpres. Siti mengatakan, pekerjaannya saat ini hanya memberikan nasihat kepada presiden.
"Kerjanya menasihati presiden, diminta atau tidak diminta. Entah diambil atau tidak diambil kebijakan itu. Tapi tidak termasuk yang tadi malam, (soal Bank Century), itu soal khusus," ujar Siti berseloroh.
Dia mengaku semenjak tidak lagi menjadi menkes, dirinya bisa mengatur waktu aktivitasnya sendiri. Dengan demikian bisa mengatur pola makannya. Saat ini, Siti berhasil menurunkan berat badannya hingga 20 kilogram.
"Sekarang ini kurus, saya tampak lebih langsing. Bukan karena tidak lagi jadi menkes lho. Tapi saya bisa meluangkan waktu untuk mengatur makan dan sebagainya," kata Siti yang langsung disambut dengan tertawa oleh para tamu undangan.
Kehadiran Siti di kampus UGM ini adalah untuk yang ketiga kalinya setelah lulus Fakultas Kedokteran tahun 1976. Pertama sebelum menjadi menteri, dan kedua saat menjadi menteri kesehatan.
Biografi
Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 6 November 1949; umur 60 tahun) adalah seorang dosen dan ahli jantung yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Siti Fadilah merupakan salah satu dari empat perempuan yang menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu, selain Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta. Ia bekerja sebagai staf pengajar kardiologi Universitas Indonesia. Setelah itu, selama 25 tahun, ia menjadi ahli jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.
Pada tanggal 20 Oktober 2004, Siti Fadilah dipilih oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, karena presiden menginginkan orang yang tegas dalam memimpin Departemen Kesehatan.[1] Ia dilantik menjadi Menteri pada 21 Oktober 2004.
Pada tahun 2007, ia menulis buku berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung konspirasi Amerika Serikat dan organisasi WHO dalam mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan virus flu burung. Buku ini menuai protes dari petinggi WHO dan Amerika Serikat. Ia menikah dengan Ir. Muhamad Supari dan memiliki 3 orang anak.
Ia menerima gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) pada tahun 1972. Pada 1987, ia menerima gelar master (S-2) untuk penyakit jantung dan pembuluh darah dari Universitas Indonesia pada 1987. Pada 1996, ia menerima gelar doktor (S-3) dari Universitas Indonesia (UI).
Pada 1993, ia kursus Kardiologi Molekuler di Heart House Washington DC, Maryland (Amerika Serikat) dan kursus Epidemiologi di Fakultas Universitas Indonesia (1997). Pada 1998, ia kursus Preventive Cardiology di Goteborg (Swedia) dan peneliti di Bowman Grey Comparative Medicine (Universitas Wake Forest, Amerika Serikat).
Ia tampil sebagai dosen tamu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dosen tamu di Pasca Sarjana Jurusan Epidemiologi Universitas Indonesia dan pengajar Departemen Jantung dan Pembuluh Darah Pusat Jantung Nasional Harapan Kita/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan staf pengajar kardiologi Universitas Indonesia.
Siti Fadilah telah menjabat menjadi ahli jantung Rumah Sakit Jantung Harapan Kita selama 25 tahun. Ia juga menjadi Kepala Unit Penelitian Yayasan Jantung Indonesia dan Kepala Pusat Penelitian Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.
Menjadi menteri kesehatan
Pada 20 Oktober 2004, ia ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memimpin Departemen Kesehatan. Ia mengaku terkejut karena ditunjuk menjadi menteri. Serah terima jabatan menkes dari Achmad Sujudi ke Siti Fadilah dilakukan di Jakarta, 21 Oktober 2004. Film kaleidoskop Departemen Kesehatan tahun 1999-2004 diputar pada acara tersebut. Selain itu, Achmad Sujudi juga menyerahkan 32 buku yang berisi kegiatan, kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang dihasilkan serta memori jabatan yang diharapkan dapat menjadi acuan kebijakan selanjutnya.
Ia mengakhiri pengiriman virus flu burung ke laboratorium WHO pada November 2006 karena ketakutan akan pengembangan vaksin yang lalu dijual ke negara-negara berkembang, dengan Amerika Serikat mendapat keuntungan dan Indonesia tidak mendapat apa-apa. Ia juga takut bahwa vaksin itu akan digunakan untuk senjata biologi.[4] Setelah itu, ia berusaha mengembalikan hak Indonesia. Pada 28 Maret 2007, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan WHO untuk memulai pengiriman virus dengan cara baru untuk memberikan akses vaksin terhadap negara berkembang. Siti Fadilah mengkonfirmasi pada tanggal 15 Mei 2007 bahwa Indonesia kembali mengirimkan sampel H5N1 ke laboratorium WHO.
Pada Maret 2007, ia menuding Askes tidak menyalurkan klaim rumah sakit sesuai dengan permintaan dalam rapat di Dewan Perwakilan Rakyat. Pada 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan "senjata biologis" dengan menggunakan virus flu burung. Bukunya dianggap membongkar konspirasi WHO dan AS, Siti Fadilah "membuka kedok" World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut. Buku ini menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan AS. Buku edisi Bahasa Inggris ditarik dari peredaran untuk dilakukan revisi, sedangkan buku edisi Bahasa Indonesia masih beredar dan memasuki cetakan ke-4.
Berikut adalah sebagian kutipan dari apa yang tertulis di buku tersebut.
“Namun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita. Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus, yaitu saudara kita yang ada di Vietnam.”
“Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu? Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain? Demikian jugakah pengiriman virus influenza di WHO yang sudah berlangsung selama 50 tahun, dengan dalih oleh karena adanya GISN (Global Influenza Surveillance Network). Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan GISN yang sangat berkuasa tersebut sehingga negara-negara penderita Flu Burung tampak tidak berdaya menjalani ketentuan yang digariskan oleh WHO melalui GISN dan harus patuh meskipun ada ketidak-adilan? ”
Buku ini direncanakan akan difilmkan dan akan menelan biaya sebesar 10 milyar. Film tersebut selesai pada Mei 2009. Pada Mei 2008, ia menjamin bahwa Indonesia dapat memproduksi vaksin flu burung sendiri. Ia juga menyatakan bahwa industri vaksin Indonesia setara dengan Republik Rakyat Cina.
Pada Selasa, 12 Mei 2009, ia meminta disampaikan secara khusus agar penerimaan mahasiswa asing untuk bidang kedokteran dihentikan secara bertahap kepada petinggi Universitas Padjadjaran, Bandung, dihadapan para wartawan, saat berkunjung ke Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung. Alasannya, masih banyak orang Indonesia yang ingin jadi dokter, serta fasilitas rumah sakit yang dipakai untuk praktek mahasiswa kedokteran asing dibiayai oleh uang rakyat tapi dipakai calon dokter dari Malaysia.
Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Metro TV, membuat acara talkshow yang bernama Bincang Bincang Bareng Bu Menkes yang kerap disingkat B4M. Acara ini kerap tayang setiap minggu malam, dan berperan sebagai co-host adalah Denny Chandra dan Kelik. (*/dtc/dh)
Selasa, 16/03/2010 | 09:26 WIB, oleh PENA
| Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman : |



