
Hati Nurani yang Kalahkan Lobi Politik
DRAMA sidang paripurna DPR RI soal pansus Century berakhir dramatis. Lobi-lobi politik partai Demokrat tak mampu mengalahkan hati nurani. Ketika Opsi C menang, suasana bergemuruh dan nyanyian bergema dalam ruang sidang wakil rakyat tersebut. Lewat lobi-lobi yang alot serta hujan interupsi, akhirnya voting terbuka menutup polemik selama berbulan-bulan ini dengan sebuah kemenangan opsi C. Artinya, kebijakan pemberian FPJP dan PMS kepada Bank Century serta pelaksanaannya bermasalah.
Motif apa yang melatarbelakangi kemenangan opsi C tersebut? Tentu bukanlah motif jabatan atau kekuasaan. Bahkan sebaliknya, partai yang memilih opsi C bisa terdepak dari kursi kekuasaan. Tidak ada tawaran politik, tidak ada tawaran jabatan dan bahkan di bawah tekanan, mayoritas anggota Dewan akhirnya memilih opsi C. Hati nurani memang tak bisa dibohongi. Kebenaran tak selalu bisa dibelokkan oleh kepentingan pragmatis sesaat.
Partai-partai yang berkoalisi seperti PKS, Golkar dan PPP, akhirnya bersebrangan dengan Demokrat. Pernyataan SBY bahwa kebijakan bailout Century sudah benar ditentang oleh partai koalisi yang saat ini berada disekelilingnya.
Ada yang akhirnya berbelok arah seperti yang ditunjukkan oleh PPP, ada juga yang berani berbeda dengan mayoritas anggota fraksinya sendiri seperti Lily Wahid. Pasca paripurna usai Lily Wahid menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk dari ungkapan kebenaran. Dan menurutnya, teman-teman satu fraksinya berterima kasih atas perbedaan sikap tersebut karena sikap tersebut menyelamatkan muka PKB secara umum memilih opsi A. Karena sebenarnya, menurutnya, ada beberapa teman PKB yang memilih opsi A karena terpaksa.
Begitu juga dengan PPP, walau sebelumnya mengambil sikap menggabungkan opsi A di mana bailout tidak ada masalah dan opsi C yakni bailot, implementasi dan kebijakan bermasalah, sikap tersebut senada dengan Demokrat, tapi kemudian secara serentak memilih opsi C. Sikap berbeda dengan Demokrat tersebut tentu menimbulkan keresahan bagi partai Demokrat yang memungkinkan diadakannya perombakan kabinet.
Apa yang menyatukan PDIP, Golkar, PKS, Gerindra, Hanura dan akhirnya PPP (juga Lily Wahid [PKB]) untuk konsisten memilih opsi C tentu adalah sesuatu yang di luar kalkulasi politis. Tidak ada yang menggerakkan, tidak ada yang memimpin, dan tidak ada yang menekan, tetapi akhirnya mereka dengan tegas secara bersamaan kompak memilih opsi C. Dan Pada akhirnya, para anggota Dewan pun berkata bahwa ini bukan kemenangan siapa-siapa, ini adalah kemenangan rakyat dan kemenangan kita bersama. (Boy M)



